Bermain Gitar Di Depan Masjid Kabupaten Karawang Jawa Barat

Bermain Gitar Di Depan Masjid Kabupaten Karawang Jawa Barat

Bermain Gitar Di Depan Masjid Kabupaten Karawang Jawa Barat

Jembling yang dasarnya dari keturunan Jawa Timur, sudah belasan tahun hidup di Karawang jawa Barat ikut dinas ayahnya. Tepatnya pindah dari Kabupaten Gresik Jawa Timur sejak dia usia 10 tahun dan kini sudah berusia 25 tahun Jembling bisa dengan tenang mengenal semua warga yang ada disana. Meski ayahnya adalah seorang Tentara tapi jumbling tetap tidak bisa memiliki rasa seperti sok sokan justru dia terkenal sangat ramah kepada tetangga dan teman-temannya di desa sana. Dan sore itu setelah menjalani salat isyak, Jembling bersama Narto dan Bagio duduk didepan Masjid sambil asyik mendendangkan lagu-lagu favoritnya yakni lagu Iwan Fals.

Hampir beberapa album lagu dia hafal karena sudah dari kecil ngefans dengan pelantun Bongkar itu bahkan semuanya foster-foster konsel Iwan Fals dari tahun 1980 an ada di kamar-kamar miliknya. Tidak heran memang apa lagi ayahnya Jenderal Soleh sudah memberikan hadiah guitar saat dia sudah berusia 5 tahunan. Karena itulah dia menmjadi sangat ahli memainkan gitar, ya  karena sang ayah juga sangat senang gitar. Kisahnya dulunya sih, waktu berdekatan dengan ibunya Jembling ini tertarik karena ayah jumbling panbdai bernyanyi. Sehingga waktu pertama pacaran mereka tidak pernah berhenti dengan bernyanyi, sehinngga sore itu waktu yang nganggur Jembling bermainkan gitar lagi didepan Masjid.

Ada sebuah lagu yang paling disuka tapi sialnya teman-temannya malah mengarang cerita sendiri-sendiri., dengan banyak yang meneritakan kehidupan setiap harinya dan ada yang menceritakan cita-cita mereka saat mereka masih kecil dimana ada yang pengen menjadi penyanyi terkenal di kafe-kafe disana, ada juga yang mengarang cerita ingin membuat boyband bertiga nantinya berkolaborasi untuk menjadi grup boyband dengan asyik menari begitu, tapiu memang daasar Jembling dia tetap tidak menghiraukan dengan asyik teteap bernyanyikan Pak Omar milik Iwan Fals masih di depan Masjid. Karena, mau bagaimana lagi sebenarnya depan masjid itu rumahnya Jembling karena disitulah tempat dia nongkrong asyik dengan teman-temannya sampai larut malam.

Enak sekali malam hari itu dilakuin sambil ngobrol ditemani kopi dan rokok pastinya jadi jika sedang tidak kuliah Jembling sangat sering bermain gitar di depan Masjid itu jadikan hidup lebih berwarna kata Narto temannya Jembling itu memang sok puitis setiap sering berkumpul sehari hari begitu sangat manis sekali dilakukan dengan beberapa kehidupan yang tidak bisa dikatakan dengan gambaran yang dibuat Susan gebeten Jembling sayangnya hingga saat ini tidak juga bisa saling bersama. Apalagi keduanya harus berpisah sangat jauh, Jembling tetap tinggal rumah didepan Masjid itu. Tapi Susan sudah berada di Jakarta untuk mengejar S2 di kampus sana.

Lingkaran di Masjid Kota Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan

Lingkaran di Masjid Kota Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan

Lingkaran di Masjid Kota Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan

Lingkaran itu masih ada saja ketika Solahudin mengelilingi Masjid yang berada di dekat rumahnya, padahal dia merasa sudah memberisihkannya tadi sebelum berangkat kerumah tadinya. Karena ini adalah sebuah misi yang harus dia pecahkan, maka dia harus belajar kepada siapa dia bisa menemukan problematika yang selama ini hadir dalam hidupnya. Dia akan terus berusaha untuk tidak menerbangkan angannya setinggi langit apapun itu karena dia tidak ingin membuat semua orang terkecewakan akan tingkah yang sudah dia perbuat. Dia sudah berjanji akan menjadi penjaga Masjid yang setia kepada siapaun yang meminta bantuan kepadanya. Setiap hari meski tanpa sebuah asupan yang berarti dia masih berusaha agar tidak terjadi konsleting listrik seperti pada malam kemarin. Semua itu Karena dia lalai tidak memasang kabel yang pas kepada generator sehingga mau tidak mau semua lampu yang menyinari desanya mati hingga tidak bisa memberikan penerangan sama sekali. Padahal ini adalah lampu satu satunya dank arena itulah dia akan berusaha membuat semuanya tampak lebih bagus lagi.

Semuanya akhirnya gelap, membuat warga yang ada di Masjid kebingungan mencari sandal alas kaki yang hilang. Bukan hilang sebenarnya tapi tidak terlihat sekali karena mendung juga gelap, bulan tidak mau menampakkan wajahnya bintang bintang juga tampak tenggelam bersama gelapnya awan hitam yang menyinari dunia itu. kini baca semuanya adalah memo yang tidak bisa dipisahkan dari kisah semua manusia yang ada di muka bumi ini. melihat ini Solahudin langsung berbegegas mempersiapkan semuanya, karena dia tidak mau karena kelallainnya semuanya terulang lagi seperti kemarin. Mumpung masih sore belum ada jam 5 sore dia sudah mempersiapkan generator kabel listrik yang akan menyalurkan ke semua lampu di desanya itu. meski hannya menyisakan sebuah ilusi yang terbaik adalah dia tidak akan membuat semuanya semakin sulit justru akan membuatnya semakin mudah dengan memberikan langkah yang terbaik suatu saat nantinya .

Inilah kisah yang ada di Masjid diamana Solahudin menjadi penjaga Masjid yang sampai saat ini dia masih tekuni. Dia sudah ada sepuluh tahun lebih katanya meberikan pelayanan agar Masjid itu tetap bersih seperti dahulu kala. Apalagi ini semuanya hanyalah sebuah impian yang akan dia wujudkan untuk membuat semuanya merasa senang sekali. Kini Solahudin mulai belajar lagi bagaimana agar tidak terjadi kesalahan konsleting seperti kemarin, sampai harus mendatangkan Umar seorang ahli listrik yang memberi tahunya segala sesuatu dtetang listri. Sehingga saat nannti tiba tiba lampu mati Solahudin sudah bisa membenahi nya kembali seperti semuala.