Pajak Penjualan Online

Pemerintah melalui departemen keuangan meninjau bagaimana pajak penjualan dan pembelian transaksi perdagangan online atau e-commerce. Transaksi yang ternyata sampai triliunan rupiah lama tersentuh oleh pajak. Direktur Eksekutif pusat untuk Indonesia perpajakan analisis (CITA), Yustinus tas200, mengatakan bahwa pajak yang dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk transaksi dan pajak penghasilan (PPh) untuk unit bisnis.

“Prinsip adalah pajak, dalam hal ini PPN pada penjualan barang, dan pajak penghasilan jika ada pendapatan dan subjek dilindungi undang-undang Indonesia,” kata tas200 ketika menghubungi kami, Jakarta, Rabu (23/08/2017). Tas200 menunjukkan, skema pajak pada transaksi online dengan prinsip asal untuk PPN yang telah diterapkan di Uni Eropa. Mana, pajak yang dikenakan di negara yang menjual, kemudian berbagi dengan negara tujuan.

“Di sini menunjukkan bahwa pajak e-commerce harus bekerja sama, bergairah menjadi penting,” katanya. Namun, jika pemerintah telah menetapkan skema pajak untuk e-commerce, maka yang harus dipertimbangkan adalah tarif pajak. Dia berharap bahwa tarif pajak yang akan dikenakan pada transaksi online tidak terlalu agresif, mengingat bahwa ekonomi digital sektor modal. Dengan demikian, strategi dengan tarif rendah untuk menjadi kompetitif dengan negara-negara lain.

“Jika kebijakan agresif, mudah untuk pindah ke luar negeri, kita bahkan kehilangan, domisili Singapura, pendapatan dari Indonesia,” terangnya. Mengatakan pengenaan pajak pada transaksi online di Indonesia akhir untuk diterapkan, tetapi untuk mengejar target penerimaan tidak ada salahnya untuk diimplementasikan segera. “Awal gagap menyesuaikan diri dengan perubahan model bisnis, agak terlambat (implementasi), tapi itu harus dimulai segera,” katanya.

pajak jual tas wanita online

Pajak pengenaan, tas200 mengatakan harus dilakukan dengan koordinasi kedua Kementerian / lembaga, serta seperti dengan negara-negara asing. “Saya pikir itu harus dirumuskan pajak kebijakan yang menciptakan keadilan keadilan bagi e-commerce dan sektor konvensional,” jelasnya. Katanya koordinasi antara Kementerian / lembaga, yaitu Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Financial Services Authority (OJK), dan Kementerian Komunikasi dan teknologi informasi.

“Tapi itu harus dibedakan antara kebijakan dan pemerintahan, yang pertama adalah tentang peradilan perpajakan, dua cara efektif untuk pajak,” tutupnya. Ade (22) sapaan akrab, gadis cantik jurusan ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan bisnis (FEBI Islam) UIN Walinsongo Semarang mulai bisnis tas buatan tangan sejak memasuki semester ketiga.

Masuk akal untuk memiliki tas tidak saat berbelanja, Ade mengambil inisiatif untuk memproduksi kantong sendiri sejak pertengahan-2014 yang lalu. “Itu adalah totebag tren untuk kuliah, temen banyak yang menggunakan tapi karena saya tidak memiliki mode untuk nyoba membuat diri sendiri,” kata gadis yang lahir di Kendal, 19 September 1995 ini.

Terbuat dari potongan-potongan dan ibu tua mesin jahit yang dibuatnya totebag yang digunakan untuk perguruan.
BIKIN TAS – Ade (22) mahasiswa fakultas ekonomi Islam ekonomi dan bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo jahit tas. Dia menjual secara online tas dan dapat untuk kuliah nya Tapi siapa yang akan memiliki pikiran jika buatan tangan tas banyak teman yang tertarik.

Akhirnya dengan modal Rp 50 ribu Ade membuat tiga tas dengan model yang sama untuk dipasarkan kepada teman-temannya. Meskipun awalnya ada pepatah buruk tapi dia tidak menyerah. Ade terus berusaha dengan membuat model tas wanita lain dan mulai mempromosikan melalui instagram. BIKIN TAS – berbagai macam bentuk dan model tas wanita yang dibuat oleh siswa Ade UIN Walisongo Dijual online. Dalam seminggu dapat pre-order Rp 2 juta.

“Mungkin karena jahitan masih tidak rapi jadi ada orang-orang yang mengatakan jelek. Tapi alhamdulillah model tas wanita buatan tangan saya lebih suka. Ada juga model tas wanita telah dijual kepada 300 unit,”ujar Ade. Meskipun hanya belajar untuk menjahit otodidak dan memodifikasi beberapa model tas wanita yang ia punya dari internet anak pertama dari pasangan Nur Kholis (50) dan Siti Khapsah (48) dapat menghasilkan pre-order Rp 2 juta dalam seminggu.

Sekarang selain totebag dia juga menjual kantong dengan berbagai model, stringbag, slingbag dan juga ransel yang terbuat dari kain. Produk yang dia namai “Blub” yang ia dipasarkan melalui instagram @blubhandmade account dan baris yang sama @blubhandmade Sekarang dia memutuskan untuk hanya pasar online, tetapi itulah yang membuat segmen pasar yang luas. “Membeli hampir dari seluruh Indonesia kecuali orang-orang yang tidak Papua dan Bali,” jelasnya.

BIKIN TAS – berbagai macam bentuk dan model tas wanita yang dibuat oleh siswa Ade UIN Walisongo Dijual online. Dalam seminggu dapat pre-order Rp 2 juta. Dia masih online penjualan karena hal ini efektif dan biaya efisien. Terutama saat ini anak-anak sekolah dan mahasiswa hampir semua menggunakan gadget. Sementara aktif kuliah ia biasanya menerima pesanan dari hari Senin untuk Rabu dan Kamis lalu sebagai tenggat waktu untuk pembayaran, dan akan pulang pada akhir pekan untuk menghasilkan karena itu masih tinggal di asrama.

Ade biasanya menjual produk mereka dengan kisaran harga Rp 10 ribu untuk kantong dan Rp 60 ribu hingga Rp 90 ribu untuk tas. Setelah semester ketujuh ia tidak lagi tinggal di asrama dan berfokus sendiri menghasilkan setiap pesanan di rumahnya yang terletak di Kedungsari RT 4 RW 1 Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. Untuk pemesanan akan biasanya dikirim melalui jasa pengiriman JNE atau J & T. Setelah pembeli mengirimkan bentuk nama, alamat, nomor telepon, dan barang memerintahkan dan jumlah yang akan ada konfirmasi dan biasanya barang akan 2-3 hari setelah pembayaran melalui transfer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *